Ini adalah satu cerita lagi mengenai kondisi rumah sakit di Indonesia. Saya peroleh ini melalui email beberapa hari yang lalu. Sebenarnya bukan cerita baru, tapi cukup menyentak hati nurani saya, sehingga saya pikir harus di-posting di sini:
Malam itu, Sabtu 8 Desember 2007. Ketika terjadi kecelakaan di depan rumah yang mengakibatkan seorang gadis 18 tahun bernama Wulan sempat ‘gak sadar beberapa saat setelah kejadian.Begitu terbiasa dengan suara-suara motor di depan rumah yang jatuh terguling entah karena jalanan licin dan kurang hati-hati pengendara-nya, atau karena bertabrakan dengan motor lain, membuat gue sedikit hapal dengan perkiraan hasil akhir kejadian tersebut, dari suara yang ditimbulkan. Kali ini sungguh dramatis, dan gue ‘gak yakin sendiri apakah kotak P3K yang gue sambar dalam kalut menghambur menuju ke jalanan depan rumah akan berguna.
Sampai di RS Sentra Medika, Cimanggis.
Wulan cukup cepat dipindah dari mobil menuju bed. Walaupun perawat jaga yang ada juga kurang dibantu oleh rekan-rekan mereka di rumah sakit, malah akhirnya kami sendiri yang turun tangan. Dokter jaga saat itu langsung memeriksa Wulan dan perawat mulai menginterogasi kami bagaimana kejadian-nya. Sampai disini gue masih merasa tidak ada masalah, sampai ketika dokter jaga yang memeriksa kepala Wulan berkata, “ini luka-nya cukup mengkhawatirkan juga, perlu CT Scan…” “Iya dokter, mohon segera diambil tindakan aja” , kami langsung mengiyakan. Selanjutnya, dokter bertanya ulang, “Mau langsung di CT Scan, atau di rawat dulu?”Lho… mulai aneh pertanyaan-nya sih, tapi… ya sudahlah berhubung lagi panik dan khawatir keadaan Wulan, kami langsung menjawab ulang, “langsung CT Scan aja dok”. Untuk tambahan informasi, dalam perjalanan menuju rumah sakit yang juga mendebarkan itu, gue menghubungi keluarga dan kerabat Wulan untuk memastikan bahwa tindakan gue tidak menyalahi dan melanggar hak-hak orang lain. Ketika gue tanya, “mas, dokter di rumah sakit menyarankan dilakukan CT Scan, apakah diperbolehkan Wulan di CT Scan, dan bagaimana mengenai biayanya, maaf?” dan mereka bilang silahkan ambil tindakan terbaik & ‘gak masalah dengan CT Scan… akhirnya menurut gue ya cukup wajar, ketika gue menyampaikan kehendak keluarga ke pihak rumah sakit. Yang penting gue tidak merasa melanggar hak orang lain, itu aja.Menit-menit berikutnya, gue mulai mondar-mandir antara UGD – Radiologi, mengisi formulir, dan ‘agak mengganggu perawat di ruang Radiologi yang entah sedang apa di balik tirai, sebelum akhirnya gue menerima tagihan biaya CT Scan… Rp. 600.000,-
“dokter, pasien apa harus segera di CT Scan sekarang atau ‘nunggu keluarga dahulu?”
Dokter menjawab, “sebaik-nya segera” …
Gue bilang lagi, “kalau gitu bisa ‘ngga dokter, kalau pembayaran dilakukan sebagian dahulu atau setelah dilakukan CT Scan, karena uang sedang dibawa keluarga dalam perjalanan?”…
“Wah itu terserah bagian radiologi, coba anda tanya ke sana, kami hanya melaksanakan CT Scan atau tidak, tapi kebijaksanaan administrasi yang menentukan ada di bagian radiologi langsung”, kata dokter itu lagi.
“Oh, oke dokter, saya ke sana lagi”, gue bilang sambil melirik ke Wulan di bed UGD dan agak bingung… kog… belum diapa-apain dokter yah… sementara itu gue lihat di ruangan ada beberapa dokter dan perawat yang sedang santai-santai sms dan ‘ngobrol.Terpacu oleh kenyataan bahwa kalau gue ‘nggak cepet ke bagian Radiologi lagi, nanti Wulan kenapa-kenapa, gue mempercepat langkah dan tanya suster di Radiologi:
“mbak, mmm… kalau pembayaran-nya nanti setelah keluarga dateng atau sebagian dulu bisa ‘nggak? Jadi pasien di CT Scan dulu sekarang…”“Wah kalau itu terserah bagian UGD mba, saya cuma jalanin mesin CT Scan aja disini…”
“mbak, mmm tadi saya baru dari UGD dan dokter di sana minta supaya saya ke sini minta persetujuan mbak, apa mbak bisa konfirmasi telepon ke UGD aja daripada saya bolak-balik lagi?”
Dengan muka jelas langsung asem, suster tersebut menelepon bagian UGD, dan kembali menjelaskan ke gue bahwa prosedur tindakan memang begitu, bahwa gue harus bayar dulu, baru CT Scan dilaksanakan.
“Walaupun saya bayar sebagian dahulu apa ‘gak bisa juga mbak?”, tanya gue lagi.
“Wah kalau itu masalahnya silahkan mbak tanya ke bagian kasir…”, yang mana ketika gue ke sana juga dibilang gue harus minta persetujuan dokter jaga dahulu.Weks…
Buru-buru gue menuju UGD lagi, dan bertanya:
*sambil melirik bed Wulan… loh kog belum diapa-apain juga nih Wulan, masih teronggok aja di bed?*:
“Dokter, saya benar-benar bingung… sebaiknya Wulan harus cepat di CT Scan atau tidak, saya dan keluarga berharap cepat ada tindakan, tapi terus terang uang yang ada belum cukup. Saat ini keluarga sedang menuju kemari bawa uang. Bagaimana dokter?”
“Ya kami hanya menjalankan prosedur di rumah sakit ini saja, ibu…”, kata dokter itu lagi.
“Saya mengerti dok, tapi saya bingung, CT Scan itu benar-benar dibutuhkan atau tidak untuk Wulan? Kalau persoalan-nya uang, kami mau membayar sebagian dahulu, tapi tetap katanya harus persetujuan dokter. Saya sendiri khawatir tadi dia muntah-muntah begitu hebat”, dengan nada agak mulai naik dikiiitttt…
Dan dokter itu mulai membentak gue di depan Wulan dan beberapa REKAN SEJAWAT-nya:
“Bagaimana mau di CT Scan kalau pendarahannya belum berhenti!!! Ibu harus mengerti ini!!!”Kesadaran langsung terhempas.
Tapi gue masih punya harga diri sedikit:
“Kalau pendarahan-nya harus dihentikan sebelum CT Scan, kenapa tidak dari tadi dihentikan, dokter? Mungkin tidak di-CT Scan dahulu tidak masalah, tapi saya lihat Wulan masih belum diambil tindakan apapun dari tadi, sejak saya mondar-mandir ke Radiologi?”, dengan suara mulai agak tersendat, kalut dengan emosi dan airmata yang hampir tumpah.
“Maksud ibu apa???”
“Maksud saya, apakah pak dokter terhormat tega, kalau nanti melihat Wulan mati tanpa penanganan di sini?”, suara gue makin lirih…
“ITU BUKAN URUSAN SAYA!!!!!”Gelegar kata-kata dokter itu semakin menghempas gue ke pojokan yang betul-betul berupa pojokan ruang UGD. Untuk sesaat gue sulit bernafas. Kenyataan memang pahit, tapi sangat terasa kental-nya pahit ketika elu mencoba menerima kenyataan, bahwa kepercayaan yang selama ini dibangun, untuk percaya bahwa dokter adalah penolong sesama MANUSIA, hancur berkeping-keping. Ruang kepercayaan itu masih ada, tapi lantai-nya malam ini kembali dinodai. Sulit untuk menghapus noda-noda dalam kenangan itu.
“Bukan… urusan… dokter…”, ucap gue lirih terbata dalam perih yang tersendat pahit menguar… mengulang kata-kata dokter yang terdengar jumawa di telinga. Lalu, bagai tersengat lebah dokter-dokter lain dalam ruangan UGD tersebut mulai berhamburan menghampiri Wulan yang teronggok bagai daging tanpa harga di bed UGD. Bagai kupu-kupu yang mulai menyadari, ada sekuntum bunga elok di balik semak berduri, yang wajib dikerumuni. Bagai para penambang emas yang tiba-tiba menemukan sebongkah emas dalam tambang. Well, daging sapi yang masih berdarah-darah aja di supermarket masih berlabel HARGA, yang jelas menunjukkan BENDA BERHARGA. Dan manusia bernama Wulan ini sama sekali tidak ada harga-nya di mata dokter yang ‘udah membentak gue.
Dan gue hanya bisa pasrah, di pojokan UGD sambil berucap dalam hati… apakah harus melalui ini semua, setiap tindakan dalam ruang UGD dilakukan? Apakah harus ada pembuktian jumawa seorang dokter di balik jubah putih-nya, dengan kata-kata yang dikeluarkan? Apa yang hendak dibuktikan dari semua ucapan dokter itu? Dan berapa banyak sudah pasien yang mungkin mati infeksi karena telat ditangani dokter yang belum mengumbar jumawa-nya, seperti yang telah dilakukan dokter ini di depan kami?Kematian atau cacat mungkin adalah takdir, tapi ‘nggak perlu campur tangan kita untuk mempercepat kematian itu atau memperburuk keadaan. Usaha semaksimal mungkin untuk mencegah yang terburuk, itu yang penting.
Begitu keluarga datang, gue langsung menuju tempat parkir dan segera pulang untuk melupakan episode mimpi ini. Menurut kerabat yang gue telepon, Wulan harus dalam pengawasan dokter. Dan sampai sekarang, kondisi-nya belum pulih kesadaran-nya. Gue cuma bisa berdoa yang terbaik untuk Wulan…
Maret 25, 2008 at 3:16 pm
ya ampun…. kasian banget ya si wulan itu, yah mingkin dokter itu ga pernah berfikir kali apabila ini terjadi dengan anaknya. ya semoga saja dokter ini ga pernah mengalaminya dan semoga dia keburu ber taubat sebelum TUHAN MURKA kepadanya!!, dan semoga wulan juga mau memaafkanya.
Maret 26, 2008 at 9:32 am
Kalo sudah nonton film SICKO-nya Michael Moore, mungkin kita jadi lebih bersyukur jadi orang Indonesia, ketimbang jadi orang Amerika. Di Amerika, soal nyawa juga ada hitung-hitungannya. Kalo gak punya uang, ya mati lah.
Di Indonesia masih ada askeskin yg bisa menjamin kesehatan orang miskin.