Januari 2008


Seorang anak muda yang sangat miskin bekerja sebagai wiraniaga untuk membiayai uang kuliahnya. Pada suatu hari, ia sangat bingung karena ia hanya punya uang sepuluh sen saja, padahal ia sangat kelaparan. Ia memberanikan dirinya untuk minta makan pada tetangganya, tapi ia gugup ketika seorang nyonya yang perlente membuka pintu. Ia tidak jadi minta makanan. Ia minta segelas air saja.
Perempuan itu merasa bahwa anak muda itu dalam kesusahan. Ia berikan kepadanya segelas susu. Ia minum perlahan-lahan. Ia bertanya, “Berapa?”
“Anda tidak perlu bayar apa pun?” kata perempuan itu, “Ibuku mengajarkan untuk tidak menerima apa pun buat perbuatan baik
“Kalau begitu, terimakasih saya yang setulus-tulusnya,” katanya. Ketika anak muda itu meninggalkan rumah itu, ia merasa lebih bahagia dan keimanannya kepada Tuhan serta kepercayaannya kepada umat manusia menjadi lebih kuat.
Bertahun-tahun kemudian, nyonya yang baik itu jatuh sakit. Dokter-dokter tidak tahu persis apa penyakit yang dideritanya. Ia dikirim ke rumah sakit dan diserahkan kepada anak muda dulu yang kini sudah menjadi dokter. Ketika ia mendengar nama kota asal pasiennya, matanya bersinar dan mulai menduga-duga siapa dia.
Ia mulai merawatnya dan segera mengenal sang nyonya. Ia bekerja keras untuk menyelamatkan nyawanya. Akhirnya, setelah perjuangan yang berat, perempuan itu sembuh. 
Dokter itu meminta administrasi rumah sakit untuk menyampaikan kepadanya tagihan untuk ia setujui. Ia memperbaiki tagihan itu dan menandatanganinya. Di atas tagihan biaya rumah sakit itu ia menuliskan catatan kecil. Ia krimkan kembali kepada pasiennya.
Perempuan itu tahu ia harus membayar tagihan itu selama sisa usianya. Walaupun ia bahagia karena telah disembuhkan, ia juga kuatir tidak bisa membayarnya. Ia membuka amplop dan terkejut ketika membaca tulisan di atas surat tagihan itu: “Tagihan ini sudah dibayar bertahun-tahun yang lalu dengan segelas susu- dr Howard.”
Tangisan kebahagiaan membasahi mukanya. Ia bersyukur kepada Tuhan dan berterimakasih kepada dokter muda itu akan balasan kebaikannya.”

Ngomong-ngomong soal Palestina, bagi yang belum tahu, Palestina dibagi dua, menjadi wilayah “Arab” (maksudnya Palestina sekarang, berisi warga Islam dan Kristen) dan wilayah “Yahudi”, dengan adanya resolusi PBB tanggal 29 Nopember 1947. Lengkapnya ada di http://en.wikipedia.org/wiki/1947_UN_Partition_Plan. Deadline pelaksanaan resolusi itu sendiri adalah 1 Agustus 1948. Text lengkapnya ada di sini, http://www.palestinecenter.org/cpap/documents/resolution181.html. Pelaksanaan ini tidak terlepas dari janji yang diberikan Inggris kepada Zionis pada 2 Nopember 1917 (declaration of sympathy with Jewish Zionis aspirations). Selengkapnya, dan bunyi text nya, lihat di http://en.wikipedia.org/wiki/Balfour_Declaration_of_1917. Buat yang belum tahu apa itu Zionist, lihat di sini, http://en.wikipedia.org/wiki/Zionist. Di situ terdefinisi bahwa Zionis merupakan suatu organisasi politik internasional yang bertujuan mencari wilayah negara bagi Israel, dan didirikan oleh Theodor Herzl, orang Austria, Yahudi Eropa. Hitler sendiri nyata-nyata memegang peranan penting dalam membentuk negara Israel tahun 1948, karena gara-gara kebijakan holocaust-nya lah, terjadi imigrasi besar-besaran ke Palestina. Selengkapnya lihat di http://en.wikipedia.org/wiki/Category:Jewish_emigration_from_Nazi_Germany. Pembentukan negara Israel merupakan perampokan tanah besar-besaran yang direkayasa oleh Eropa (Inggris, Amerika, PBB, Zionis) terhadap tanah arab. Dahulunya, sebelum ada negara Israel, bangsa Arab Islam, Kristen, dan Yahudi hidup damai berdampingan di Palestina, tetapi kemudian harus dibagi-bagi menjadi dua sebagai wilayah “Arab” dan “Yahudi”, di mana sebagian besar Yahudi nya sendiri adalah Yahudi imigran dari Eropa.